Malam ini aku menutup kedai kopiku lebih malam dari biasanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 tetapi wanita itu belum juga muncul. Aku kesal, sengaja kusuruh pegawai-pegawaiku untuk lembur hari ini saja. Sudah 3 minggu aku menunggu di kedai ini, tetapi dia tidak pernah muncul lagi. Oh Tuhan, aku bahkan belum tahu namanya.

Salah satu pegawaiku minta izin pulang. Matanya sudah begitu merah menahan kantuk sedari jam 11, waktu seharusnya kami tutup. Saat itu aku sadar bahwa aku juga sangat letih. Lalu aku izinkan ketiga pegawaiku untuk pulang dan membiarkan aku yang mengunci pintunya. Aku masih ingin di sini. Aku akan menunggu di sini.

Entah mengapa, sejak aku bangun pagi tadi, aku merasakan rasa optimisme yang begitu tinggi bahwa hari ini aku akan bertemu dengan wanita misterius itu. Ada 2 hal yang membuatku bingung yaitu satu, mengapa aku begitu yakin akan bertemu dengannya hari ini, dan dua, mengapa aku harus bertemu dengannya. Tetapi, tidak ada yang dapat membunuh rasa ingin tahu. Maka malam ini aku putuskan untuk memperpanjan waktu kerja pegawaiku meskipun malam ini, ato lebih pantas dibilang subuh ini, rasanya sia-sia belaka. Wanita itu tidak ada. Apa mungkin dia lupa jalan menuju kedai kopi ini. Saat itu dia sedang menangis, mungkin dia tidak ingat sudah berjalan ke arah mana dan entah bagaimana muncul di depan kedai kopi ini. Seketika itu juga, aku merutuk, mengapa aku memilih lokasi ini sebagai tempat membuka kedai kopiku. Memang pemandangannya tidak ada duanya, tetapi butuh usaha yang lebih untuk datang ke arah sini. Kedai kopiku dikenal dari mulut ke mulut. Bukan karena papan iklan murahan atau membesar-besarkan di media internet. Ah, sial.

Setengah jam aku duduk sambil membaca-baca novel yang halamannya tidak juga kubalik dari pertama kali aku membukanya. Kemudian aku menguap mungkin untuk keempat kalinya. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Kurapikan kursi yang kududuki, kumatikan lampu-lampu, dan kututup gorden merahku. Dengan berat hati aku mengunci pintu kedai kopiku. Untuk kesekian kalinya aku lembur tanpa hasil. Pelanggan pun tidak ada, karena mereka mengira aku sudah tutup pukul 11 malam.

Ku tatap nanar bulan bulat penuh di langit yang sangat cerah. Koran-koran mengatakan bahwa bulan sangat terang dan jelas malam ini. Aku berharap, semoga dia juga melihat bulan ini. Sampai ketemu besok, pintaku.