Siapapun yang bilang hanya senyum yang dapat mempercantik wajah seorang wanita, dia salah. Dia pasti tidak pernah melihat wajah wanita itu. Aku melihatnya menatap lurus ke depan. Tidak jelas apa yang dia lihat. Yang pasti sedari tadi, aku melihatnya tidak beranjak dari tempat dia duduk sekarang.

Wanita itu datang hampir setiap hari. Aku tahu, karena setiap hari pula aku berada di kedai kopi ini. Kedai kopi ini adalah kepunyaanku yang baru aku miliki sejak sekitar 3 bulan yang lalu. Kedai ini berada sekitar 10 meter dari tempat wanita itu duduk.  Di tempat aku berdiri sekarang, di dalam kedai kopi, aku dapat menatap wanita cantik itu dengan puas tanpa ketahuan olehnya.  Aku selalu meluangkan waktu untuk berdiri di posisi yang sama setiap dia datang supaya aku dapat melihatnya dengan jelas.

Aku ingat pertama kali aku melihatnya duduk di situ. Sekitar 1 bulan yang lalu, yaitu 2 bulan setelah pembukaan resmi kedai kopi ku. Aku melihatnya datang berlari lalu berhenti. Begitu banyak barang-barang yang dia bawa. Satu tas wanita, satu buket bunga mawar merah mudah, satu frame foto dengan kaca pecah. Aku tidak dapat melihat jelas foto yang dia bawa. Kemudian dia melempar semua yang dia pegang begitu saja lalu duduk di pinggiran itu. Aku melihat kepalanya menunduk, bahunya bergerak tidak teratur, dan tangannya sesekali mengusap matanya. Dari gerakannya, aku berpikir mungkin dia sedang menangis. Karena penasaran, aku kemudian keluar dari kedai kopi dan berjalan ke arahnya. Baru sekitar 20 langkah aku berjalan, benar saja, aku mendengar suara sesenggukan wanita itu. Segera kuurungkan niatku dan mulai berjalan mundur. Tetapi tiba-tiba wanita itu berhenti menangis dan menatap ke arah ku. Aku terkejut. Bukan karena takut. Tetapi karena rona pink di pipi dan hidungnya. Seketika itu juga, aku merasa ingin berlari ke arahnya, mengusap air matanya, memeluk, dan menenangkan dia. Untung saja aku masih bisa dapat menahan diri, karena kalau tidak, dia pasti akan berteriak minta tolong karena ada orang asing yang tiba-tiba memeluk dia.

Aku dan wanita itu bertatapan lama. Saat itu adalah 10 detik terlama dalam hidupku. Mataku seketika dapat melihat dengan sangat tajam. 10 detik itu kupakai dengan efisien untuk menikmati setiap senti wajahnya. Oh, cantiknya, kupikir. Wajahnya lonjong sedikit bulat. Hidungnya mancung dengan besar sesuai dengan wajahnya. Bibir atasnya tipis tetapi bibir bawahnya penuh. Begitu merah, mungkin dia menggigit bibirnya dari tadi. Tulang pipinya tinggi. Kalau dilihat sekilas, dia mirip dengan wanita-wanita di film Yunani zaman dulu, wajah sombong aristokrat yang dipuja banyak laki-laki. Rambut hitam terurai panjang sedikit ikal. Tidak rapih dan awut-awutan. Walaupun mata bulatnya bengkak dan bawah hidungnya berair karena menangis, hanya Tuhan yang tahu, kecantikannya tidak berkurang sama sekali.

Aku kemudian memberanikan diri kembali berjalan ke arah dia. Dia tetap tidak melepaskan pandangannya dariku. Aku semakin mendekat. Ku geser tas dan buket mawar yang ada di sampingnya. Kemudian aku duduk di situ.

“Kamu tidak apa-apa?”

Wanita itu membuang muka dan menatap ke depan. Tiba-tiba dia berkata “Apa pedulimu?”

Saat itu aku berfikir suara yang keluar dari mulutnya adalah suara lembut dan agak melengking layaknya suara wanita pada umumnya. Tetapi yang ku dengar sekarang adalah suara yang serak dan rendah. Sungguh tidak sesuai dengan wajah cantiknya. Mungkin karena dia sedang menangis. Atau mungkin memang begitu suaranya. Ah, itu tidak penting sekarang.

“Bukannya aku sok peduli, tetapi kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan kalau melihat seseorang sedang menangis seperti kamu? Masa tidak kudatangi. Apalagi di area ini, sepenglihatanku cuma tinggal kita berdua.”

“Kamu ngikutin aku ya? Kamu disuruh papa ya?”

Wah percaya diri sekali wanita ini.

“Satu, aku tidak kenal papamu. Dua, aku punya kedai kopi tepat di samping kita itu. Tiga, semestinya aku sudah menutup kedai kopiku sekarang dan pulang. Tetapi mana mungkin. Karena aku orang yang baik hati, aku tidak mau melihat ada orang putus asa dan bunuh diri di depan kedai kopiku. Nanti kedai ku jadi gak laku. Arwah mu mau tanggung jawab kalo aku rugi?”

Wanita ini tiba-tiba diam. Dan terdengar, “HAHAHAHAHAHA!!! Bodoh kamu. Hantu kok diminta ganti rugi. Lebih bodoh lagi, aku gak mau bunuh diri!”

“Lah mana ku tahu kamu ternyata kamu gak mau bunuh diri. Kamu duduk di pinggiran sini. Tinggal lompat jiwamu udah di neraka sekarang.”

“Duhh,,, kamu ganggu deh. Aku lagi sedih, kamu malah duduk di sini. Sumpahin aku masuk neraka lagi.”

Aku langsung beranjak pergi dan berlari ke arah kedai kopiku. Kuambil 2 gelas kopi panas untuk kami berdua. Saat aku kembali, kuberikan padanya.

“Kok kamu tahu aku suka kopi.”

“Aku gak tahu. Di kedai kopi yang adanya kopi dong, masa ku bawakan jus sirsak.”

“Hahahaha.”

Hening.

Aku melihatnya menyeruput kopi lalu mendecak “Aaahh.. hangatnya.. enak..”

“Iyalah. Buatan siapa dulu.”

“Udah ah, aku pulang dulu. Thanks anyway.”

Dia langsung berdiri cepat dan mengambil semua barang-barang yang tadi dia lempar. Aku kaget dan tiba-tiba saja dia sudah menghilang.

Aku pun berteriak “AKU BELUM TAHU NAMAMU.”

-bersambung-