The First Attack
Erika menangis menahan sakit di dadanya yang muncul tiba-tiba. Sakitnya seperti ditusuk seribu jarum. Bibirnya pucat. Jangan sampai ada orang yang tau. Tiba-tiba semuanya gelap dan dingin.
Am I dead? I hope so.
“Sekarang kamu berada di mana?”
“Saya di mana? Saya gak tau.”
“Sekarang tanggal berapa dan hari apa?”
“Kamis, 23 Oktober 2009.
“Kamu masih ingat nama kamu?”
“Erika.”
Dokter Ramli baru saja melakukan tes orientasi kepada Erika. Raka begitu kaget saat mengetahui perawat menemukan Erika pingsan di dalam ruang tunggu mahasiswa di bangsal rumah sakit dan langsung bergegas ke bangsal. Mengapa Erika pingsan? Raka langsung mencari Ramli, yang adalah teman satu angkatan Raka dulu saat masih mahasiswa.
“Ram, dia kenapa?”
“Kayaknya dia kecapekan. Tadi pas diangkat suster-suster ke sini, mukanya pucat banget, Ka. Emang dia siapa lo?”
“Eh, temen gue.”
“Ooh.. temen. Gue gak pernah liat muka lo sepanik ini. Hahah. Tenang aja Ka, dia udah dipegang ama gue, ahlinya.”
“Kenapa dia bisa pucat? Mungkin dia belum makan, ya Ram?”
“Mungkin aja. Tapi tekanan darahnya sempat rendah banget. 80/60 mmHg. Mungkin itu yang bikin dia pingsan. Yang gue gak tau apa yang bikin tekanan darahnya serendah itu. Nanti setelah Erika sadar, lo aja deh yang anamnesis. Kan dia cewek lo. Hahahaha”
“Temen, Ram, just friend.”
“Okay, as you wish, sir.”
Raka meninju pelan lengan Ramli. Ramli memang salah satu teman dekatnya dulu di masa-masa mahasiswa. “Ram, gue ada operasi 15 menit lagi. Tolong jagain dia, ya. Sms gue kalo dia udah bangun.”
“Beres, bos.”
“Thanks.”
Saat Erika terbangun, Ben sudah duduk di sampingnya bersama Moya dan Bon.
“Ere, lo kenapa? Belum makan? Lo diet yang aneh-aneh lagi ya?” kata Bon sambil memeluk Erika.
“Iya, Re. Masa preman bisa pingsan sih.” Ben tertawa kecil melihat Erika. Ere, kamu tahu aku khawatir..
Raka muncul tiba-tiba dan menyapa ketiga teman Erika yang datang berkunjung. Wajah Ben terlihat kaget, eh ngapain ni dokter bedah ada di bagian penyakit dalam.
“Erika, kamu gak papa?”
“Eh iya.”
Ben terkesiap mendengar obrolan mereka berdua. Wah, ngobrolnya saja pakai aku kamu. Mereka jadian? Bon menyeletuk, “Eh gue, Moya, ama Ben, cabut dulu ya. And you, lady, you owe us some stories.” sambil menunjuk muka Erika dan menunjukkan muka pura-pura marah tapi langsung tersenyum.
“What story?” Raka bertanya penasaran.”Oke, let’s talk about it later. Aku mau tanya kenapa kamu bisa pingsan? Lupa makan lagi? Aku kan udah bilang berkali-kali jangan lupa makan. Calon dokter kok gak bisa jaga diri sih?”
Erika bingung mendengar Raka yang sudah menasehatinya dengan cerewet padahal belum juga 10 menit Erika bangun.
“Gak tau, Ka. Tadi tiba-tiba dadaku sakit banget. Terus aku pingsan deh. Padahal aku udah sarapan kok tadi pagi.”
“Sakit di dada? Kamu pernah kek gini sebelumnya?”
“Pernah, tapi gak sampai pingsan.”
Raka benar-benar cemas melihat masih pucatnya wajah Erika. Gak mungkin kan Erika serangan jantung.
“Erika, kamu ada kelainan jantung?”
“….”
“Erika?”
Erika tersadar dari lamunannya. “Eh, Ka, apa? Enggak. Enggaklah. Aku gak ada kelainan apa-apa. Kenapa emangnya? Aku bukan serangan jantung kok tadi. Aneh-aneh aja kamu, Ka.”
Raka berfikir yah memang kemungkinannya kecil sekali untuk wanita seusia Erika mendapat serangan jantung.
Lalu Raka berkata, “Kamu mau ga periksa jantung di HarKit?”
“Apaan sih, Ka. I’m okay. Aku cuma kecapean.”
“Erika, listen to me, mulai besok, aku yang antar jemput kamu setiap hari. Kalo aku jaga di IGD, aku suru supir aku yang jemput kamu. And you are not allowed to say no, understood?”
“Ka..”
“Sstt,,” Raka meletakkan telunjuknya di bibir Erika, “Shut up, sayang. Tutup mata kamu.”
Raka mencium Erika dengan lembut membuat Erika terlonjak, “Eh.. Ka.. hah?”
“Itu sebagai materai kalo aku sekarang yang tanggung jawab buat kamu. Kamu juga pikir donk perasaan aku, Erika, aku tadi lagi di OK dan tiba2 dapat message kalo kamu pingsan. Kamu mestinya tahu gimana khawatirnya aku tadi.” Raka mengutarakan isi hatinya tiba-tiba. “Aku gak suka ngeliat kamu sok tegar.”
“Raka, I have to talk to you.”
“Apa?”
Senyum ini cuma buat mu

