The First Attack

Erika menangis menahan sakit di dadanya yang muncul tiba-tiba. Sakitnya seperti ditusuk seribu jarum. Bibirnya pucat. Jangan sampai ada orang yang tau. Tiba-tiba semuanya gelap dan dingin.

Am I dead? I hope so.


“Sekarang kamu berada di mana?”
“Saya di mana? Saya gak tau.”
“Sekarang tanggal berapa dan hari apa?”
“Kamis, 23 Oktober 2009.
“Kamu masih ingat nama kamu?”
“Erika.”
Dokter Ramli baru saja melakukan tes orientasi kepada Erika. Raka begitu kaget saat mengetahui perawat menemukan Erika pingsan di dalam ruang tunggu mahasiswa di bangsal rumah sakit dan langsung bergegas ke bangsal. Mengapa Erika pingsan? Raka langsung mencari Ramli, yang adalah teman satu angkatan Raka dulu saat masih mahasiswa.

“Ram, dia kenapa?”
“Kayaknya dia kecapekan. Tadi pas diangkat suster-suster ke sini, mukanya pucat banget, Ka. Emang dia siapa lo?”
“Eh, temen gue.”
“Ooh.. temen. Gue gak pernah liat muka lo sepanik ini. Hahah. Tenang aja Ka, dia udah dipegang ama gue, ahlinya.”
“Kenapa dia bisa pucat? Mungkin dia belum makan, ya Ram?”
“Mungkin aja. Tapi tekanan darahnya sempat rendah banget. 80/60 mmHg. Mungkin itu yang bikin dia pingsan. Yang gue gak tau apa yang bikin tekanan darahnya serendah itu. Nanti setelah Erika sadar, lo aja deh yang anamnesis. Kan dia cewek lo. Hahahaha”
“Temen, Ram, just friend.”
“Okay, as you wish, sir.”
Raka meninju pelan lengan Ramli. Ramli memang salah satu teman dekatnya dulu di masa-masa mahasiswa. “Ram, gue ada operasi 15 menit lagi. Tolong jagain dia, ya. Sms gue kalo dia udah bangun.”
“Beres, bos.”
“Thanks.”

Saat Erika terbangun, Ben sudah duduk di sampingnya bersama Moya dan Bon.
“Ere, lo kenapa? Belum makan? Lo diet yang aneh-aneh lagi ya?” kata Bon sambil memeluk Erika.
“Iya, Re. Masa preman bisa pingsan sih.” Ben tertawa kecil melihat Erika. Ere, kamu tahu aku khawatir..
Raka muncul tiba-tiba dan menyapa ketiga teman Erika yang datang berkunjung. Wajah Ben terlihat kaget, eh ngapain ni dokter bedah ada di bagian penyakit dalam.

“Erika, kamu gak papa?”
“Eh iya.”

Ben terkesiap mendengar obrolan mereka berdua. Wah, ngobrolnya saja pakai aku kamu. Mereka jadian? Bon menyeletuk, “Eh gue, Moya, ama Ben, cabut dulu ya. And you, lady, you owe us some stories.” sambil menunjuk muka Erika dan menunjukkan muka pura-pura marah tapi langsung tersenyum.

“What story?” Raka bertanya penasaran.”Oke, let’s talk about it later. Aku mau tanya kenapa kamu bisa pingsan? Lupa makan lagi? Aku kan udah bilang berkali-kali jangan lupa makan. Calon dokter kok gak bisa jaga diri sih?”

Erika bingung mendengar Raka yang sudah menasehatinya dengan cerewet padahal belum juga 10 menit Erika bangun.

“Gak tau, Ka. Tadi tiba-tiba dadaku sakit banget. Terus aku pingsan deh. Padahal aku udah sarapan kok tadi pagi.”
“Sakit di dada? Kamu pernah kek gini sebelumnya?”
“Pernah, tapi gak sampai pingsan.”

Raka benar-benar cemas melihat masih pucatnya wajah Erika. Gak mungkin kan Erika serangan jantung.

“Erika, kamu ada kelainan jantung?”
“….”
“Erika?”

Erika tersadar dari lamunannya. “Eh, Ka, apa? Enggak. Enggaklah. Aku gak ada kelainan apa-apa. Kenapa emangnya? Aku bukan serangan jantung kok tadi. Aneh-aneh aja kamu, Ka.”

Raka berfikir yah memang kemungkinannya kecil sekali untuk wanita seusia Erika mendapat serangan jantung.

Lalu Raka berkata, “Kamu mau ga periksa jantung di HarKit?”
“Apaan sih, Ka. I’m okay. Aku cuma kecapean.”
“Erika, listen to me, mulai besok, aku yang antar jemput kamu setiap hari. Kalo aku jaga di IGD, aku suru supir aku yang jemput kamu. And you are not allowed to say no, understood?”

“Ka..”
“Sstt,,” Raka meletakkan telunjuknya di bibir Erika, “Shut up, sayang. Tutup mata kamu.”
Raka mencium Erika dengan lembut membuat Erika terlonjak, “Eh.. Ka.. hah?”
“Itu sebagai materai kalo aku sekarang yang tanggung jawab buat kamu. Kamu juga pikir donk perasaan aku, Erika, aku tadi lagi di OK dan tiba2 dapat message kalo kamu pingsan. Kamu mestinya tahu gimana khawatirnya aku tadi.” Raka mengutarakan isi hatinya tiba-tiba. “Aku gak suka ngeliat kamu sok tegar.”
“Raka, I have to talk to you.”
“Apa?”

I’m here. Tenang, sayang!

“Ya, ini diskusi terakhir kita. Terima kasih sekali, ya, atas kerja samanya.”
“Makasih, dok.” “Makasih” “Thanks, dok!”
Teman-teman sekelompok Erika langsung pergi keluar ruangan meninggalkan Erika dan fasilitatornya berdua.
“Erika, kamu masih gak enak badan?”
“Hah?” Erika terkaget. Rasa kantuknya karena harus jaga malam dari jam 4 sore sampai jam 7 pagi dan harus langsung kuliah jam setengah 8 menambah parah meriangnya.
“Kamu masih gak enak badan?”
“Iya, dok.”
“Kalo gak ada temen-temen kamu, panggil aku Raka aja.”
Erika memang sedang tidak enak badan, tapi akal sehatnya masih jalan. Raka? Aku boleh panggil dia Raka? Aduh. Deg deg deg deg deg DEGG. Raka menempelkan tangannya ke dahi Erika.
“Kamu panas banget. Aku antar pulang ya.”
“Nggak deh dok, saya nyetir sendiri.”
“Aku bilang panggil Raka aja. Enggak papa, nanti aku naik taxi lagi aja ke sini. Oke? Nanti kamu kenapa-kenapa lagi di jalan.”
“Gak papa, Ka. Rumah kamu kan searah. Masa bolak-balik.”
“Kalo gitu, aku ikutin dari belakang. Demam kek gini, masa cuma berdua sama pembantu di apartemen. Aku temenin kamu, at least sampai panasmu turun. Lagian inikan weekend, besok aku juga gak harus ke rumah sakit. Oke? Gak boleh nolak, ya. Kamu lagi sakit.”

Ya ampun, Raka baik banget. Jangan sampai…… Oke. Gak mungkin. Aku suka sama Ben dari tingkat 1. Gak mungkin aku juga suka sama ni dokter, baru juga sebulan diskusi bareng. Well, makan siang juga sih. Emang sih dia pernah jemput aku ke kampus barengan. Tapi itu kan wajar, rumahnya searah kok. Eh oke, iya iya aku ngaku sebulan ini aku emang sering banget bareng sama dia. Tapi itu karena dia selalu nawarin bantuin aku bikin makalah. Lagian aku bosen di apartemen berdua sama Mbak Kamini. Dia gak bisa diajak ngobrol asyik. Jadi, ya, Raka dateng ke tempatku. IYA…. kalo dihitung dalam seminggu, cuma pas hari senin kok. Eh selasa juga deng. Eee… rabu, kamis. Oke…. tiap hari. Ya udahlah, rumahnya deket juga kok.

Di apartemen
“Cuci kaki sebelum ke tempat tidur.”
“Iya ah, Raka kayak ayahku aja. Jadi kangen nih.”
“Kamu udah lama ya gak pulang ke Denpasar?”
“Iya, aku kangen mereka semua. Kangen pantainya, langitnya, bulenya. Baguuuussss banget kalo matahari mau terbenam. 2 warna, biru dan jingga. Kalo lagi kesepian aku sering ke pantai dan ngomong sama langit biru jingga ku. Hehehe. Norak banget ya?”
“Hahah, gak nyangka aja muka preman seperti kamu, bisa romantis gitu. Ngomong ama langit biru jingga.”
“Kapan-kapan Raka harus ikut lihat langitku itu.”
“With pleasure, princess. Tapi sekarang kamu tidur dulu. Baru aku pulang.”
“Aku gak bisa tidur kalo dipelototin gitu.”
“Yah ditutup dong matanya. Aneh ah.”
“Cerewet.”
Akhirnya Erika tertidur. Tangan Raka masih menahan kompres di dahi Erika. Panasnya sudah turun. Ah, damainya dia kalau lagi tertidur. Seakan-akan dunia ini hanya miliknya sendiri. Oh, Tuhan, aku tidak mungkin jatuh cinta secepat ini. Please, help me control myself.

Quote : The more you control your heart, the more uncontrollable it turns out.

Satu kali saja. Dia tidak akan tau. Satu kecup saja. Dia tidak akan tau. Aku janji, setelah satu kecup, aku tidak akan menyentuhnya lagi. Erika…..

Malam itu, Erika bermimpi indah. Dia bermimpi seorang lelaki menciumnya dan berkata bahwa dia sadar dia telah menemukan cinta sejatinya. Yang aneh, badan lelaki itu mirip badan Raka, tapi wajahnya mirip Ben. Saat dia bangun dan mengingat mimpinya, entah kenapa dia tau yang menciumnya di mimpi adalah Raka, bukan Ben.

Erika terbangun, dan melihat Raka tertidur di sampingnya masih memegang tangan Erika. Erika berkata jujur dalam hatinya, I’ve never seen such a perfect man in my life. Siapa wanita yang kau cintai? Pasti dia sangat beruntung. Semoga bukan aku. Kau tidak pantas mendapatkan wanita cacat sepertiku.

“Raka, maaf aku bangunin kamu?”
“Gapapa, Re, udah enakan?”
“Ka, pulanglah. Udah malem banget. Nanti kamu dicariin pacarmu lo.”
“Kalo aku udah punya pacar, masa aku di sini jagain kamu.”
“Makanya cari cewek dong.”
“Kalo aku masih nyari cewek, masa aku di sini jagain kamu.”
“Apa sih, berat banget ngomongnya. Tau ah.” Erika tersipu malu. Apa maksudmu, Ka? Bahwa kamu udah mendapatkan cewek yang kamu mau. Aku? Ah tidak mungkin. I’m nothing.

“Ya sudah, aku pulang. Itu juga karena kamu yang suruh. Pokoknya kalo ada apa-apa, langsung telepon aku jam berapapun. I’ll come.”

Raka mencium dahi Erika dan setelah itu dia merasa kurang sopan. Shoot, i shouldn’t have done that. “Maaf, aku….”
“Kebiasaan mencium one night standmu?”
“Hey, i’m not a type of man like that. I’ve even never kissed a woman’s lip.”
“Yeah, right.”

Erika mencibir. Tidak mungkin dia percaya, lelaki setampan Raka tidak pernah menggunakan asetnya untuk menarik wanita-wanita butuh cinta ke dekatnya.

“I’m serious. Punyaku cuma buat punyaku.”
“Stop talking too complicated, okay. Apa lagi itu punyaku punyaku.”
“Aku hanya buat wanitaku seorang.”

Mereka berdua bertatap lama. Saling berharap ada cupid yang menembakkan panah ke hati manusia di hadapan mereka masing-masing. Mereka berdua tidak sadar, tidak perlu ada cupid di sini. He’s done his thing. Erika tersenyum. Senyuman termanis yang pernah dilihat Raka seumur hidupnya. Aku bisa berdiri di sini selamanya hanya untuk menunggu senyuman itu khusus buatku.

Sekali lagi, you have to be mine.

“Erika, i apologize. Aku terlalu cepat, ya?”
“Terlalu cepat apanya?”
“Ini.. Eee.. yang tadi.”
“Hahaa, you’re funny. Biasa aja kali, emangnya kamu gak pernah dicium dahinya ama temen kamu? It’s okay, asal jangan pikir yang enggak-enggak aja.”
“Eh..”
“Pulang gih.”
“Oke. See you.”

Aku sayang kamu.

Di mobil, Raka menampar dirinya sendiri. Berfikir betapa bodohnya perbuatannya tadi. Mestinya dia tidak mencium dahi Erika. Sekarang pasti Erika tidak mau lagi berbicara padanya.

cring..
Erika menerima satu pesan baru di handphonenya. “Erika, i was so stupid. So sorry.”

Dasar cowok bodoh.

Erika, it’s me

Di lapangan basket
“Ben, lo tingkat 4 kan?”
“Iye, kak. Kenapa?”
“Berarti lo kenal ama Erika?”
“Erika? Iya kenallah. Satu tingkat gitu. Kenapa, kak?”
“Enggak. Iseng doang.”
Ngapain dia nanya-nanya.
Ben juga terkadang heran dengan perasaanya. Ada kalanya dia tidak menganggap Erika cewek karena keblak-blakkannya itu. Tapi, kalau mood Erika baik, dia bisa jadi wanita yang bikin Ben deg-degan. Ben tahu itu salah, dia sudah punya wanita. Ya, aku sudah jatuh cinta. Tidak mungkin aku jatuh cinta lagi. Aku hanya kagum padanya.
Setelah latihan basket selesai, Raka mendekati Ben dan bertanya, “Eh si Erika itu udah punya pacar?”
Dada Ben tiba-tiba sakit, pikirnya shit, i hate this question.
“Gak tau, kak. Dia gak terlalu sering curhat ama gue. Tapi dia pernah bilang dia udah naksir cowok. Kenapa?” Entah kenapa Ben tidak terlalu pintar menyembunyikan rasa betenya.
“Siapa? Ee.. enggak.. ada temen gw yang nanya tentang dia.”
“Emm…. gak tau kak, dia pernah bilang fasilitatornya yang sekarang ganteng banget. Tapi dia gak bilang siapa.”
“Fasilitator?”

Ben mengangguk, heran dengan keceriaan Raka yang muncul tiba-tiba.
Sepanjang latihan hari itu, Raka tidak berhenti tersenyum.

Senyum ini cuma buat muSenyum ini cuma buat mu

You have to be mine

“Ereeee….. gileee lama banget gak ketemu lo? Sini-sini… eh kapan-kapan kita jalan-jalan lagi yuk. Udah lama, nih. Sejak ko-as lo gak pernah jalan-jalan lagi ama gue.”
“Ben, apaan si lo? Eh tau gak tadi dokter gue gak dateng terus digantiin ama residen, gantengnya bukan maen. Gile.. deg-degan gue. Mana dia jadi fasilitator gw lagi. Bakal 1 bulan penuh gue ama dia mulu.”
“Oya… Siapa namanya?”
“Ada deh. Dari bodinya kayaknya dia tim basket deh.”
“Masa sih, siapa namanya? Penasaran ni. Di tim basket residen gak banyak yang oke.”
“Ah mo tau aja. Ntar lo naksir lagi.”
“Yeee. Emangnya gw bengkok? Straight kali gue.”

Hati Erika berdesir cuma mendengar kata bengkok.

Tiba-tiba Erika merasa menginjak kaki seseorang. Erika berbalik dan …
“Aduh, Erika. Kamu lagi. Dulu kamu pernah, eh, sekarang kamu injak kaki saya.”
“Dokter Raka, maaf dok, saya gak sengaja.”

Ben berdiri di belakang Raka dan melihat ke arah Erika dengan raut wajah yang aneh. “Re, gw cabut.”
“Da…, Ben.”

“Erika, besok jangan lupa bilang sama teman-teman kamu, makalahnya harus sudah jadi.”
“Beres, dok”
“Kamu gak pulang?”
“Iya, dok, lagi mau nyari angkot.”
“Rumah kamu di mana?”
“Hah? Nggak usah dok, saya bisa pulang sendiri kok.”
“Siapa yang mau ngantar kamu pulang? Saya cuma basa-basi kok.”

Raka pun berbalik dan meneruskan jalannya meninggalkan Erika sendiri terbengong. Buset dah, belum sehari gue ketemu ni dokter, udah dikacangin. Dasar feodal.

Anjrit, goblok banget gue. Ngapain gue nanya rumahnya di mana. Baru juga gue tau namanya. Aduh, pasti dia ngirain gue playboy. Dia tadi lagi ngobrol ama anak basket itu, siapa namanya? Oh iya, Ben. Ah, ntar gue mo nanya-nanya Ben aja tentang dia.

The First Meeting

“Aduh. Maaf banget, dokter. Saya buru-buru”

Raka mengambil berlembar-lembar kertas fotokopiannya yang terjatuh. Dasar cewek sial, pake nabrak segala lagi. Gak tau apa, gue juga buru-buru.

“Dok, maaf sekali. Ini kertasnya.”
“Tingkat berapa kamu?”
“Tingkat 3, dok”
“Huh, pantes, masih mahasiswa”

Erika mendengus kesal, “Ya ampun, tau deh lo ganteng, gue kan udah minta maaf. Sok banget sih. Mentang-mentang residen.”

Raka mengambil kertas dari tangan Erika dengan kasar dan berbalik. Walau masih kesal Raka tersenyum simpul dan berpikir tentang wanita yang menabraknya tadi. “Coba yang nabrak bencong taman lawang langsung gue tendang deh ke sungai.”

Erika mengingat dengan jelas nama dokter yang sombong itu, “Ck, gitu tuh, baru residen aja sombongnya bukan main. Duh, semoga nanti gue gak jadi dokter songong kek gitu. Awas kau Raka.”

Sekarang Erika menginjak tingkat 4. Di fakultas kedokteran berarti tahun depan dia akan bergelar sarjana kedokteran. Ampun, udah 20 tahun, belum punya pacar. Apa kata dunia?

Erika yang malang. Selalu haus akan cinta, tapi selalu menolak cinta yang datang padanya.

Seorang ibu-ibu masuk ke ruangan kuliah. Sepertinya dia mau memberi pengumuman. “Maaf, ya, dokter kalian tidak bisa datang memberi kuliah, karena beliau ada urusan ke Buenos Aires selama 1 bulan”

“Yeaaaahhh…. asyik.” Tetap saja walaupun mahasiswa di sini sudah berkepala dua, jiwa kekanak-kanakan mereka masih tetap ada. “Asyik, bisa cepat pulang berarti aku gak perlu ketemu fasilitator dan ngumpulin makalah.”
“Eh, jangan senang dulu. Sudah ada penggantinya. Dia akan memberi kuliah lalu kalian harus berdiskusi dengan fasilitator masing-masing.”

Lalu masuklah seorang dokter tinggi dan berbadan tegap. Erika berfikir, wah tampannya, sepertinya pernah kulihat. Di mana ya?

“Selamat siang, nama saya dr. Raka. Saya adalah asisten dr. Santoso. Beliau mengatakan kita harus berdiskusi setelah saya menerangkan beberapa tambahan untuk kita diskusikan nanti.”

O dammit. Itu dokter yang tampan nan sombong selangit itu. Ngapain dia di sini? Asisten dosen? Wah berarti dia pintar. Aduh, semoga dia gak inget aku.

“Oke, ada yang mau ditanyakan? Kalian berkumpul ke kelompok masing-masing untuk diskusi dengan fasilitator kalian, ya! Kelompok yang dipimpin dr. Santoso mana? Saya yang gantikan beliau.”

Erika dan teman-teman sekelompoknya mengangkat tangan. Raka kaget dan tersenyum kepada Erika menandakan dia masih ingat jelas wanita yang menabraknya hampir setahun yang lalu. Erika yang tidak tahu harus berbuat apa hanya menahan bibirnya supaya tidak tersenyum dan tersipu malu.

“Tolong, mendekat ya, dan bikin lingkaran.” kata Raka.

Diskusi berjalan lancar. Erika senang karena itu berarti dia bisa cepat pulang. Ah, biar gak kena macet, harus buru-buru pulang.

Raka juga senang karena baru kali ini dia melihat wanita yang begitu diam tapi sekaligus energik. Kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu dibarengi dengan senyuman. Kalimat-kalimat yang dikeluarkannya singkat, padat, dan jelas. Tidak seperti teman-temanya, pintar tapi bertele-tele. Dia cerdas. Erika diam bukan karena malas berbicara. Dia berfikir dalam otaknya dan mencerna semua yang dibicarakan teman-teman sekelomponya. Itu yang Raka suka, wanita sederhana. Cantik, tapi eksploitif.

You have to be mine. 

Erika tidak tahu, hari ini ada satu orang yang jatuh cinta padanya. Orang yang tidak pernah dia sangka.

The Friends

2007

Kalau mau berhenti menangis, aku harus tertawa. Tapi hatiku lebih tenang kalau menangis. Ibu selalu mengingatkan, supaya aku jangan memberi tahu siapapun tentang skoliosisku. Maaf, bu, aku tidak tahu harus cerita ke siapa lagi. Aku harus memberi tahu kepada kedua sahabatku. Aku ingin dikasihani. Aku cacat. Aku cacat.

Sekarang

Berkali-kali Erika berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Untunglah kepengecutannya membuat dia toh selalu mengurungkan niat bodoh itu.

Oh, Tuhan, ajari aku untuk bersyukur atas segala sesuatu, karena rancanganMu adalah rancangan damai sejahtera.

Tulang sialan.

Erika cantik. Bukan, dia manis. Begitu kata teman-temannya, walaupun begitu bencinya dia disebut cewek manis. Tapi memang, senyumnya manis. Walaupun banyak yang bilang, mukanya galak seperti preman, tapi Erika adalah orang yang rapuh. Rapuh, tapi terlihat tegar. Selalu ceria, tapi sebenarnya tawanya yang keras itu membuat dia melupakan segala sesuatu yang membuatnya kecewa. Kata-katanya yang selalu blak-blakkan adalah salah satu bentuk pemberontakannya pada dunia. Kadang dia berfikir dunia ini tidak adil.

Kenapa harus aku yang tulangnya bengkok.

Tiap hari dia lewati perasaan rendah diri, duh jangan sampai ada yang sadar tentang tulangku. Untunglah masih ada yang bisa aku banggakan. Sebagai mahasiswa kedokteran fakultas negeri nomor satu di Indonesia, bisa dipastikan tidak ada yang bilang Erika bodoh, kecuali anak-anak sirik yang sekolah ke luar negri dengan alasan mencari pendidikan yang lebih bagus, padahal karena tidak lulus SPMB.

Erika memilih mengikuti jejak ayahnya menjadi dokter, karena dia berjanji dia tidak ingin membuat pasiennya menangis.

Tidak. Aku tidak mau jadi seperti dokter sialan yang membuat ibuku menangis.

“Ere gila, ngapain lo melamun?”

“Ben, ah, lagi mikirin yang enyak-enyak juga. Ganggu aja lo.”

“Dasar, udah ah gue ke kelas dulu”

“Take-in tempat 3 dong, buat gue, Bon, ama Moya”

“Kagak ah”

“Ancol, lo, pelit”

“Ih, kasar banget sih jadi cewek, mana ada laki-laki yang mau.”

Ben berlari ke kelas sambil tersenyum. Senyum itu, selalu membuat hati Erika tenang.

Ah Tuhan, sayang dia sudah jatuh cinta pada wanita lain. Tentu saja wanita normal, tidak cacat seperti aku. Ben, jangan pernah jatuh cinta sama aku ya.

Entah karena apa, Ben menoleh ke belakang dan berteriak, “Hoi, lamunin gue ye?”

Aku pun tersenyum. Aku bisa gila kalau kau bisa baca pikiranku, Ben. Aku bisa gila kalau kau tau betapa aku menyukaimu. Aku bisa gila kalau kau tau tentang tulangku. Ah, sekarang pun sepertinya aku sudah mulai gila.

“Moy, kuliah tadi lo catet gak? Pinjem fotokopi ye, gw ngantuk banget tadi, jadinya dengerin Ipod deh.”

“Ere gila.. Makanya kuliah tu disimak biar gak ngantuk” Moya mengetuk lembut kepala Erika yang jauh lebih tinggi darinya. Erika, you are perfect, don’t underestimate yourself, will you….

The First Complaint

Di Indonesia
“Bu, bracenya gak enak banget nih. Ketiakku kejepit. Sakit banget. Tulang belakangku juga pegel banget. Sesak. Aku gak bisa tidur.”
“Sabar ya sayang. Sekarang kamu tidur harus menghadap ke kiri, tidak boleh ke kanan ya.” Mata ibu berkaca-kaca lagi. Please, bu, stop crying…
“Have a nice dream!”
“Same to you, thank you”

Ditatapnya lekat mata putri satu-satunya itu. Erika, kamu harus kuat menjalani ini, pikir ibunya, ibu di sini, sayang.

Setelah ibu keluar, air mataku yang kutahan mati-matian akhirnya meledak.

“Tuhan, kenapa jadi kayak gini? Brace ini harus kupakai tiap hari. Aku gak bisa nafas Tuhan. Aku gak bisa main basket lagi. Tuhan, aku gak tau mesti gimana. Aku gak mau liat ayah dan ibu nangis karena aku. Tuhan boleh bengkokkin lagi tulang belakangku, asal ayah dan ibu gak nangis. Tuhan, bikin mereka benci aja sama aku, supaya mereka gak sedih”

Erika kecil tidak dapat meramal masa depan. Yang pasti, saat ini dia merasa dunianya hancur. Bukan cuma tulangnya. Bukan cuma kulit ketiaknya yang perih dan nyeri. Bukan cuma air matanya yang terus mengalir. Tapi hatinya juga. Terus diingatnya hasil rontgen yang dipasang di tempat praktek dokter di Singapura. Dokter sialan, dia yang bikin ibuku menangis. Tidak. Aku yang buat ibu menangis. Seandainya saja tulangku tidak bengkok, ayah dan ibu tidak mungkin kecewa.

Kenapa tulangku bisa sebengkok itu? Aku cacat.

Oh, Tuhan, aku cacat.

I could never be as beautiful as my mommy. Never. 

Quote : A woman is dying when she thinks she isn’t beautiful.

The First Hope, you think

Aku, ayah, dan ibu pergi mencari second opinion.

Dan dokter itu juga membuat ibuku menangis.

Aku bahkan masih belum mengerti apa yang mereka bicarakan. Oh, sakitnya hatiku melihat ibu menangis. Aku ingin pergi ke Orchard Road sama ibu. Ibu pasti senang belanja, kan lagi summer discount.

Tiba-tiba aku disuru keluar oleh ayah.” Erika, tunggu di luar ya. Ada yang mau ayah bicarakan sama dokter”

Aku pun keluar tapi kuambil tempat duduk yang mengarah ke pintu supaya aku bisa melihat ayah dan ibu. Menangis lagi. Ah, capek. Nanti saja sesampai di hotel aku tanya penyebabnya.

“Erika sayang, kita mau ke Alexandra Hospital, ya. Kamu mau dibuatin alat penopang tulang. Namanya Boston Brace. Supaya tulang kamu bisa lurus lagi.”


Lurus?
Apa maksudnya?

The First Path

17 Januari 2009
Erika meletakkan kepalanya yang terasa berat di atas meja.

Aarghh… kenapa susah sekali hidup ini.

Kertas yang sudah ditulisinya sejak 2 jam yang lalu basah karena setitik air yang mengalir dari matanya.
Aduh… pikirnya, kenapa aku cengeng sekali. Aku capek menangis terus.

Matanya kabur bukan hanya karena air mata. Tapi karena sesuatu yang menggerogoti otaknya. Pikirannya. Jiwanya.

Tahun 2000
“Bu, aku gak enak badan nih…”, erang Erika manja kepada ibunya.
“Tuh kan, udah ibu bilang jangan terlalu capek”, ibunya berkata tegas tetapi tetap saja dipijatnya putri kesayangannya itu. “Sini, buka bajunya, biar dikasi minyak kayu putih”
“Iya bentar, bu.”

“Aduh, enak banget bu, kerasin lagi donk”
“Ri, kok aneh ya, punggung kamu yang sebelah kok lebih gede, ya?”
“Apaan sih bu, udah ah, ntar aja kasi tau ayah, ayah kan dokter, aku mo dipijet terus nih”
“Aduh, tapi keliatan banget bedanya Ri, kok aneh ya? Sebentar ibu panggil Ayah dulu”

“Yah, sini deh, liat punggungnya si Erika, kok besar sebelah ya? Pinggang nya juga gak simetris”
“Rika, coba duduk tegak, ya sayang” kata ayah sambil menekan lembut punggung Erika. “Sakit gak?”
“Aduh, yah, sakit ah, kok malah ditekan sih?”

Ayah Erika tiba-tiba terdiam dan matanya menerawang ke atas. Ya, Tuhan, jangan sampai anakku, pikirnya.
“Erika, besok kita ke Singapura, ya. Ayah mau ajak kamu ke dokter”
“Ha? Emang aku kenapa? Kan cuma sakit gitu aja, yah.”
“Iya, mungkin kamu skoliosis, tapi ayah cuma mau mastiin aja, ayah punya kenalan di sana, sekalian kamu belanja, ya sayang, udah lama kan?”
“Oke, deh, kalo shopping mah”

Ayah Erika keluar dari kamar diikuti oleh ibunya. Erika berpikir kenapa muka ayahnya terlihat panik. Ibunya juga. Seakan-akan penyakit yang disebutkan ayahnya tadi sangat parah.

Ah, tidak mungkin ada penyakit yang lebih parah dari kanker. Apa tadi namanya? Solosis? Sosis? Ah sudahlah, lagi enak dipijet malah ditinggalin gini. Dasar si ibu. Gak papa deh, yang penting besok ke Singapura.

Di Singapura
“Dokter, apa tidak ada cara lain? Harus dioperasi dok? Anak saya usianya belum genap 11 tahun. Masa mau dijahit sebesar itu?”

Dokter itu berkata-kata dalam istilah kedokteran Inggris. Aku tidak mengerti. Ah, coba aku jago bahasa Inggris. Nanti sampai di rumah, aku mau minta ibu cariin guru privat bahasa Inggris ah.

Tiba-tiba aku melihat ibuku menangis tersedu. Khas ibuku, tangis yang tidak pernah terdengar. Semakin sunyi, semakin dalam sakitnya.
Kenapa? Apa yang terjadi? Sepertinya semua baik-baik saja. Kenapa ayah juga menangis?

Lalu aku memperbaiki posisi dudukku dan mendengar dengan seksama. ….. handicapped…. stop playing basketball…….. she needs special attention.
“Actually she has to be operated as soon as possible. If she doesn’t, her curve will get worse and give her a lot more dangerous side effects.”
Hah? Kenapa berhenti main basket? Cacat? Aku? Cacat?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.