Saat Bon dan Moya hendak masuk ke kamar di mana Erika dirawat, mereka berhenti. Bon mengurungkan niatnya untuk masuk karena dia melihat Erika bercucuran air mata.
“Moy, ga usa masuk de. Gue ga enak ama Ere. Kita biarin dulu aja ya?”
“Ya uda, de, Bon. Ere kenapa ya?”
This is me being selfish. This is me being hypocrite. This is me being stupid. I’m sorry Raka. I don’t deserve you.
-Erika-
Ere sayang, what’s wrong with you? What have you been hiding? Aku khawatir….
-Raka-
Erika menangis sambil menutup matanya. Rasanya sakit sekali. Saat Erika yakin dia jatuh cinta, saat Erika yakin Raka juga jatuh cinta, she has to let go everything. Erika merasa bodoh.
Ibu.. aku mesti gimana?
“Ben lo mo kemana?”
“Ko, sorry, gue ga ikut basket de hari ini. Gue ada urusan.”
“Ngapain lo?”
“Ada deh.. heheh. Udah ye, gue cabz.”
Entah kenapa Ben hari itu memikirkan Erika dan Ben sampai rela bolos latihan basket demi ngejenguk Erika.
Saat Ben membuka pintu kamar Erika, itulah pertama kalinya Ben melihatnya menangis. Erika, wanita yang selalu dia anggap seperti laki-laki, yang selalu dia anggap childish, ternyata juga punya hati.
You’re so beautiful .
Erika tiba-tiba membuka matanya dan
“Ben, ngapain lo di sini?” Erika sibuk mengusap matanya supaya tidak ketahuan menangis.
“Re, sorry, lo kenapa? Kenapa nangis sih?” Ben langsung duduk di samping tempat tidur Ere sambil bertopang dagu memandangi Ere.
“Don’t look at me like that.”
“Re, ternyata kalo diliat-liat lo cantik juga ya.”
“Ya iyalah, lo nya aja yang kagak nyadar.”
“Hehehe, aduhh, Ere… Kenapa kamu nangis sayang?” Ben mengusap-usap kepala Ere.
“Sayang dari Hongkong lo. Apaan sih? Kagak ah, ini efek sedasi nya, gue jadi delirium pas bangun tadi.”
“Dodong, plis deh, lo kira gue anak akuntansi, gue juga ngerti kali obat sedasi apa yang bikin delirium. Kenapa si, Re? Cerita dong, lo aneh kalo lagi nangis. Kek bukan lo, tau? Lo kan kuat, perkasa, lebih jantan dari gue. Hahahaha.”
“Ga kenapa-kenapa ah. Jangan rese deh. Gue mo pulang ni. Bilangin susternya donk.”
Tiba-tiba Raka datang sambil membanting pintu.
“Ere, aku mo ngomong. Ben, kamu bisa keluar sebentar?”
“Gue bilang gue gak mau liat lo lagi.”
“Gak. Kamu ga bilang gitu, kamu cuma pengen aku keluar tadi. Plis, Re, I need to talk to you.”
Ben bingung sambil menatap mata Ere yang keliatannya akan menangis lagi.
“Re, should I go?” Ben berbisik kepada Ere.
“You should!” Raka berteriak setengah memaki Ben.