I need someone who wants to fight for me, whom I can turn to whenever I have problems, who gets angry to people who hurt me, who defends me whether I’m right or wrong, who is consistently in love with me.

I realized that I don’t have one.

And the worse thing is, I have done those things to people I care.

Gue ga punya orang who got my back. Saat gue cerita tentang suatu masalah, they constantly say, “you shouldn’t do that”, “mestinya kamu gak gini”, “coba lo dengerin gue”, “tuh kan uda gue bilang”, “makanya jangan gitu”.

No solution. No feedback. No help.

 

Who are you people? really. Can you just shut up and mind your own business?

Stop the Story

I decided to stop making stories about Erika and Raka. You know why?

Because I don’t have the inspiration. I’ve never experienced loving someone and being loved in return. So how can I make up a story of such important event when one eventually trusts one’s life to someone who one doesn’t relate to. It’s important and weirdly sacred to me. I don’t wanna ruin it.

Why does the inspiration stop?

Because i stop falling in love with Raka. Sadly. Yeah, for people who’s sensitively romantic. But for me, well, the time has not come. Yet.

Well, okay, so i will continue writing, not about raka but about my own life and how i feel, hoping that someday one certain event will inspire me to write a good story *crossing finger*.

Something’s Wrong With Me

You know, it’s actually scary because recently I can’t get death off of my head. I think about it all the time. I think of how I can go on living when my parents or my brother die. I’m scared. I know that the time will indeed come, but still it’s freakishly scary. I mean, since I was a kid, I’ve never experienced loss. Not that I want it right now and then, I mean, everybody will die, right?

Then, I think, what will happen if I die? Is it really gonna be like in the movie? Well, I know because I believe in Jesus I’m surely going to heaven, but what happen in between, after I die, get off of my body, and before I go to heaven?

I can’t stand looking at my mother and father crying although I often make them so on account of my attitude. But, I don’t mean to anyway. I’m scared. I think I have to talk to you, God. What do I have to do? The fact that I just have to surrender it all to You makes me a little bit confused because I think I have to do something. I know I don’t have faith big enough to move a mountain. I mean faith means believe without seeing. Gosh, it’s so difficult.

Trusting someone is so difficult.

What should I do?

What’s the point?

So I made a decision.

I will let it go.

This feeling. This useless feeling. This agony. This thing which i never wanted to have with you.

Akhirnya keputusan ini sudah keluar dari mulut saya. Butuh waktu yang sangat amat tidak sebentar untuk sedikit saja mengakui bahwa saya memang harus melepas kamu dari pikiran saya. What’s the point by the way, having this uncontrollable feeling?

Well, if we have the same feeling, we cannot be together. You don’t even agree with my dream, my vision of life, my goals. What’s the point?

If we don’t have the same feeling, it will be so awkward afterwards, considering we already are awkward. What’s the point?

Difficult. Very. But must be done. Sadly. So, please, please let me keep my pride. Please don’t let me say this feeling to you ever.

This kind of relationship is good enough for me. You know, me – liking you but doing nothing, and you – knowing me liking you and do nothing. It’s good enough. Even though this situation is still presumably true in my opinion -or should i say in my assumption-, i don’t have a gut to find out how you feel exactly. No, although probably there is 0,001 percent you being in love me. No, no, no.

Well, until I see you again, my dear friend. :)

-Dia Bohong-

Dia bohong.

Dia bilang suatu hari nanti akan ada seorang yang akan mencintai aku. Akan ada seorang yang yakin bahwa aku adalah cintanya, yakin bahwa aku akan bersama dengannya seumur hidup kami. Dia bohong.

Aku sudah 22 tahun sekarang dan belum pernah sekalipun ada seorang yang datang padaku dan mengatakan bahwa akulah cintanya. Aku pernah jatuh cinta pada seorang tetapi sayang hanya bertepuk sebelah tangan. Dia bohong.

Aku benci film romantis. Itu hanya membuat aku berfantasi tentang cinta yang sepertinya tidak akan pernah ada. Mungkin sang sutradara juga tidak pernah merasakan cinta sehingga dia menciptakan cinta yang dia anggap sempurna di dunia film yang tidak mungkin menjadi nyata. Dia bohong.

Aku benci jatuh cinta. Aku benci diriku sendiri saat aku sadar bahwa aku sudah jatuh kepalang dalam cinta. Aku benci mempunyai emosi yang tidak dapat kupahami. Aku benci saat aku tidak dapat mengatakan tentang ini kepadamu. Aku benci karena kamu tidak cinta aku. Dia bohong.

Aku benci saat kamu lebih memilih wanita jalang menjadi tempatmu mencari kesenangan. Padahal kamu tahu wanita jalang itu tidak mungkin bersatu denganmu. Dia bohong. Lagi.

Aku benci dia. Dia yang menyatakan ada cinta di dunia ini. Dasar bodoh. Cinta itu hanya luapan emosi semata. Cinta itu hanyalah campuran perasaan-perasaan. Bukan sesuatu yang baru. Bukan sesuatu yang tidak dapat didefinisikan. Cinta itu adalah keinginan untuk memiliki, keinginan untuk menyentuh, keinginan untuk mencium, keinginan untuk membahagiakan, cemburu yang tak masuk akal. Cinta itu hanyalah kreasi para pujangga, novelis, dan sutradara. Bahkan cinta itu hanyalah angan-angan para manusia yang belum dewasa, yang menganggap dapat mengalahkan segalanya saat ada cinta. Dia bohong.

Cinta tidak mungkin datang pada pandangan pertama. Dia bohong. Semua orang bohong. Bahkan ayah ibuku bohong.

Cinta itu menyebalkan. Karena seluruh dunia juga tahu kalau cinta bisa hilang. Saat cinta hilang barulah mereka sadar kalo mereka tidak menginginkannya. Dia bohong.

Aku benci cinta. Aku benci cinta kalau cuma datang satu arah. Seakan-akan sang malaikat cinta secara sengaja menghilangkan panah cinta yang seharusnya ditembakkan juga kepada kamu. Panah bodohnya itu hanya menembak hatiku saja. Itu salahnya. Dia bohong.

Aku benci karena aku cinta kamu. Aku benci karena aku sempat termakan ciptaan pujangga-pujangga kurang kerjaan itu. Aku benci karena kamu begitu tolol dan lebih tololnya lagi aku masih cinta kamu. Aku benci karena kamu orang pertama yang muncul di otakku tiap aku bangun tidur dan orang terakhir yang muncul tiap aku mau tidur. Aku benci karena kamu tidak menganggap aku seperti aku kepadamu. Aku benci karena kamu bajingan. Bangsat kamu.

waktu hening

saya selalu suka waktu hening. di mana suara yang saya dengar bisa saya pilih. seperti sekarang ini, saya mendengar lagu “Jangan Lupakan” oleh Nidji

would it be nice to hold you. would it be nice to take you home. would it be nice to kiss you.

saya mendengar lagu ini sambil mengingat kamu yang selalu saya sayangi. why so sudden? iya, saya baru saja bertengkar dengan laki-laki itu lagi. orang yang selalu sayang anggap tidak pantas jadi abang. kalau bertengkar dengan dia, artinya saya ngelawan semua anggota keluarga saya yang lain alias ayah ibu saya. jadi daripada saya dipukul, mending saya masuk kamar dengan tampang cool. ngapain ngasitau mereka kalau saya sedih. ngapain kasitau mereka kalau saya menangis.

maaf ya, saya pakai wajah kamu lagi untuk mengalihkan kesedihan saya. soalnya saya tidak tahu harus mengingat wajah siapa lagi supaya saya tidak terlalu sedih.

selalu saya yang salah. ya saya tahu saya wanita sudah kodratnya jadi pesuruh. saya sampe capek cerita di sini. pokoknya intinya, saya merasa diperlakukan tidak adil. klise sih, namanya saya lagi emosi, ya pasti merasa paling benar. tapi saya benar-benar tidak terima dia berteriak di telinga saya sampai air ludahnya pun sampai muncrat ke wajah saya. dan ayah ibu saya cuma diam saja dan malah berkata bahwa saya memang pantas diperlakukan seperti itu karena tingkah laku saya yang kasar. ibu saya mengatakan saya sombong dan menganggap diri saya seperti raja. padahal yang saya inginkan hanya diperlakukan layaknya seorang wanita. wanita. salah ya? saya kan wanita.

ya saya memang kasar. tapi menurut saya tidak sekasar itu sampai pantas diteriakin seperti itu.

jadi saya meningat wajah kamu. karena saya yakin entah kenapa semarah apapun kamu dengan seseorang, kamu pasti tidak akan berbuat seperti itu ke lawan jenis kamu.

terimakasih karena membuat saya yakin.

saya pernah berjanji ke diri saya sendiri bahwa saya tidak akan berusaha membuat mereka senang. karena tidak akan bisa. saya tidak bisa memenuhi standar hidup mereka walaupun mereka adalah keluarga saya.

ini adalah saat bahagia saya. sekarang saya sudah bisa menjawab kalau ada yang bertanya kepada saya what is my happiest moment. ini dia. waktu hening. di mana saya benar-benar sendiri dan mengingat kamu. membuat cerita baru di otak saya di mana kamu menyayangi saya lebih dari segala sesuatu. di mana kamu akan memeluk saya atau memegang tangan saya. atau bahkan hanya duduk di samping menemani saya sampai saya bolehkan kamu pulang.

hanya di waktu hening ini semua yang saya inginkan bisa terjadi.

A Secret

2 bulan yang lalu

“Ben..” Erika berkata dengan lirih, “Gue pengen cerita sesuatu ama lo.”

“Apaan?”

“This will be sound a lil’ bit weird.”

“Ya elah. Dari dulu juga lo udah aneh. Hahahah.” Tawa Ben seketika berhenti saat melihat Erika tetap diam sambil menatap lurus ke depan. “Lo kenapa, Re?”

(Hening)

“Gue sakit. Gue cacat.”

Ben menatap Erika diam-diam dari samping dan melihat mata nya berkaca-kaca. “What’s wrong with you? Lo ga keliatan sakit.”

“I have this scoliosis.”

Ben terdiam. Dia tahu apa itu. Baru kemarin Ben mengikuti operasi skoliosis dari pasien yang harus dia follow up di bangsal. Operasi itu berjalan lebih dari 6 jam dan berisiko kematian sangat tinggi. Ben melihat bagaimana seorang anak perempuan yang baru saja berusia 11 tahun harus menjalani operasi seberat dan sebesar itu. Ben melihat bagaimana waktu pertama kali anak perempuan itu mengetahui bahwa dia menderita skoliosis karena Ben yang bertugas memberi tahu dia dan keluarganya. Ben melihat bagaimana anak perempuan itu diam dengan tatapan kosong dalam pelukan ibunya yang sedang menangis keras, bertanya kepada Ben apa yang akan terjadi pada anaknya nanti. Ben berfikir keras, bagaimana dulu Erika menerima berita itu.

“Lo.. udah dioperasi?” Ben bertanya hati-hati sambil tetap menatap lurus ke depan dan menyetir mobil.

“Gak. Bokap nyokap gue ga ijinin.”

“Kapan terakhir kali lo periksa tulang belakang lo?”

“Delapan tahun yang lalu.”

“Berapa derajat?”

“I forget. Maybe more than 50 degrees.”

 

Ben semakin mendesis keras dalam hatinya. Oh, Tuhan. 50 derajat 8 tahun yang lalu. Sudah separah apa sekarang. Delapan tahun yang lalu berarti Erika berusia 12 tahun. Wanita berhenti tumbuh kira-kira usia 16 tahun. Berarti dalam 4 tahun, tulang belakang Erika dapat bertambah parah dengan cepat. Belum lagi fakta bahwa kurva tulang belakang yang melebihi 50 derajat akan tetap tumbuh semakin parah walaupun pertumbuhan tulang sudah berhenti. Ben tidak mau berfikir yang tidak-tidak.

 

“You should check, you know that?”

“Nanti, deh. Gue belum siap.”

“Gue temenin deh.”

“Bener? Liat ntar deh.”

“Kapan? You should check it immediately. You know how fast it will be getting worse.”

“….. yeah”

 

Erika mengusap matanya. Ben tahu dia menangis, tetapi Ben tidak mau berkata apa-apa.

Ou gosh, I really want to hug her now. I just can’t believe it, this is actually the first time I see her crying. She’s not that tough.

 

“Duh, Ben, gue kok tiba-tiba pilek, ya. Hehehe”

“Tuh, ambil tissue di belakang.”

 

Ini yang membuat Ben menganggap Erika unik. Dia sangat bisa berubah dalam sekejap. Jelas-jelas tadi dia melihat Erika menangis, tapi sekarang Erika sudah bercanda kalau hidungnya tiba-tiba berair karena pilek.

 

Malam ini, Erika dan Ben sedang dalam perjalanan menuju Bandung menyusul Bon, Moya, dan teman-teman yang lain. Mereka hanya berdua di dalam mobil. Ben sebenarnya bingung, mengapa mendadak Erika bercerita tentang rahasia dirinya sendiri. Sekaligus juga senang, karena Erika biasanya orang yang tertutup, tapi kini dia mau bercerita tentang hal yang sangat penting seperti ini.

 

Seandainya perjalanan ke Bandung tidak secepat ini.

Here it is, Raka.

Saat Bon dan Moya hendak masuk ke kamar di mana Erika dirawat, mereka berhenti. Bon mengurungkan niatnya untuk masuk karena dia melihat Erika bercucuran air mata.

“Moy, ga usa masuk de. Gue ga enak ama Ere. Kita biarin dulu aja ya?”

“Ya uda, de, Bon. Ere kenapa ya?”

This is me being selfish. This is me being hypocrite. This is me being stupid. I’m sorry Raka. I don’t deserve you.

-Erika-

Ere sayang, what’s wrong with you? What have you been hiding? Aku khawatir….

-Raka-

Erika menangis sambil menutup matanya. Rasanya sakit sekali. Saat Erika yakin dia jatuh cinta, saat Erika yakin Raka juga jatuh cinta, she has to let go everything. Erika merasa bodoh.

Ibu.. aku mesti gimana?

“Ben lo mo kemana?”

“Ko, sorry, gue ga ikut basket de hari ini. Gue ada urusan.”

“Ngapain lo?”

“Ada deh.. heheh. Udah ye, gue cabz.”

Entah kenapa Ben hari itu memikirkan Erika dan Ben sampai rela bolos latihan basket demi ngejenguk Erika.

Saat Ben membuka pintu kamar Erika, itulah pertama kalinya Ben melihatnya menangis. Erika, wanita yang selalu dia anggap seperti laki-laki, yang selalu dia anggap childish, ternyata juga punya hati.

You’re so beautiful .

Erika tiba-tiba membuka matanya dan

“Ben, ngapain lo di sini?” Erika sibuk mengusap matanya supaya tidak ketahuan menangis.

“Re, sorry, lo kenapa? Kenapa nangis sih?” Ben langsung duduk di samping tempat tidur Ere sambil bertopang dagu memandangi Ere.

“Don’t look at me like that.”

“Re, ternyata kalo diliat-liat lo cantik juga ya.”

“Ya iyalah, lo nya aja yang kagak nyadar.”

“Hehehe, aduhh, Ere… Kenapa kamu nangis sayang?” Ben mengusap-usap kepala Ere.

“Sayang dari Hongkong lo. Apaan sih? Kagak ah, ini efek sedasi nya, gue jadi delirium pas bangun tadi.”

“Dodong, plis deh, lo kira gue anak akuntansi, gue juga ngerti kali obat sedasi apa yang bikin delirium. Kenapa si, Re? Cerita dong, lo aneh kalo lagi nangis. Kek bukan lo, tau? Lo kan kuat, perkasa, lebih jantan dari gue. Hahahaha.”

“Ga kenapa-kenapa ah. Jangan rese deh. Gue mo pulang ni. Bilangin susternya donk.”

Tiba-tiba Raka datang sambil membanting pintu.

“Ere, aku mo ngomong. Ben, kamu bisa keluar sebentar?”

“Gue bilang gue gak mau liat lo lagi.”

“Gak. Kamu ga bilang gitu, kamu cuma pengen aku keluar tadi. Plis, Re, I need to talk to you.”

Ben bingung sambil menatap mata Ere yang keliatannya akan menangis lagi.

“Re, should I go?” Ben berbisik kepada Ere.

“You should!” Raka berteriak setengah memaki Ben.

This is not happening, right, sayang?

“Haiiii Raka…!!”

Seorang wanita cantik sumringah memanggil Raka yang sedang melamun.

“Hei, Berry. Pa kabar?”

“Raka, kok kamu ngelamun si? Ngelamunin apa? Kamu sendiri apa kabar, kok sms ku ga pernah dibales? Eh katanya aku denger kamu lagi deket ya ama koas tingkat 4?”

“Hah? Apaan si.. Gosip aja lo…. Eh Ber gue cabut dulu ya.”

Raka bergegas pergi meninggalkan Berry yang langsung manyun.

“Duh, pertanyaan gue gak dijawab lagi. Sial.”

Raka berfikir keras, aku mesti ketemu Bon ato Moya.

“Halo, ini Bona?”

“Iya, ini siapa ya?”

“Ini Raka.”

“Rakanya Ere?”

“Eh. Iya. Gue, Raka. Eee… Lo lagi di mana? Gue bisa ngobrol sebentar ga ama lo? Ato lo lagi sibuk?”

“Emang kenapa, kak? Gue lagi di perpustakaan. Kalo maaaa…..”

“Eee.. ya udah gue langsung ke sana. Benter ya. Thx.”

Klik.

“Moy, lakinya si Ere mo ngobrol ama gue. Terus dia bilang kita di sini. Terus dia mo ke sini sekarang. Ngobrolin apaan ya? Gue jadi serem.”

“Nadanya gimana?”

“Serius gitulah.”

“Tentang Ere kali Bon. Mungkin dia pengen tahu kenapa Ere pingsan.”

“Gimana kalo dia nanya tentang itu?”

“Aduh, Bon.. Gue juga bingung. Bilang aja gak tau deh. Ere kan pesen jangan bilang siapa-siapa.”

“Duh, Moy.. Lo tau gue gak bisa boong… Muka gue keliatan banget.”

“Ya udah.. eh itu dia dateng.. tenang aja ya Bon.”

Raka datang dengan muka lusuh dan mencari ke sana kemari di perpustakaan yang penuh dengan manusia-manusia berjas putih. Bon mengacungkan tangannya memberi tanda ke Raka.

“Kak, di sini.”

“Halo, Bon, Moy. Ee.. gue bole duduk?”

“Oh, silakan kak.”

“Eh,, gue langsung aja deh ya. Ada ga si yang Ere sembunyiin dari gue?”

Bon terbatuk. Moya terdiam mencoba memasang muka innocent.

“Maksudnya apaan ya kak? Sembunyiin apa?”

“Lo tau ga, tiba-tiba dia tadi marah dan ngusir gue dari kamarnya. Dia bilang gak mau ketemu gue lagi. Gue bingung karena everything was just fine yesterday. Plis, tolong kasitau gue.”

“Aduh, kak. Sebenernya, kita berdua udah jarang banget curhat ama Ere, kak. Sejak koas, kita udah jarang banget ketemuan. Ee… sebenarnya Ere juga ga pernah cerita tentang kakak.”

“Dia ga pernah cerita tentang gue?”

Bon dan Moya takut melihat muka Raka yang berubah marah.

“Sedikit pun ga pernah nyinggung nama gue?”

“Ehh.. sebenernya Ere emang bukan orang yang suka cerita gitu-gitu. Kita juga emang udah jarang ketemu kok, kak.”

Raka diam. Tiba-tiba dia memukul meja. Raka keliatan seperti orang frustasi.

“Bon, Moya, gue pergi dulu. Maaf ganggu.”

“Mooooyy.. anjrit, sumpah. Gue kaget banget pas dia mukul meja. Kenapa dia marah gitu sih?”

“Bon, gue kaget. Jangan bilang ama Ere ya. Ntar dia makin stres lagi. Kita liat yuk, tanyain kenapa si Raka marah.”

I don’t deserve you, Raka

“Aku gak mau kita ketemuan lagi.”
“Hah? Maksudnya?”
“Aku gak mau kita ketemuan lagi. Memangnya harus berapa kali gue ulangin. Gue gak mau ketemu lo lagi.”

“Erika, kamu kenapa tiba-tiba kek gini? Aku ngapain?”

“GUE mau tidur. Can you get out, please?” Erika mencoba menahan air matanya.
Raka menganga melihat perubahan Erika yang sebegitu drastisnya. Apa salahku, Re?

“Aku….”

“GET OUT.”

Setelah Raka bergegas keluar, Erika menangis sejadi-jadinya. Erika tau, sudah saatnya dia meninggalkan Raka. Raka sudah terlanjur jatuh hati padanya. Erika tidak mau Raka tau tentang tulangnya.

Ou God, he deserves woman a lot better than me.


Raka bingung. Dia tidak pernah melihat Erika lepas kendali akan emosinya.

Kenapa dia? Aku harus tanya Bon dan Moya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.